Right Content


Sabtu, 30 Oktober 2010

Photo Exclusive Sekitar Gunung Merapi pasca letusan

Dalam 4 hari ini kita dikejutkan dengan dua bencana yang menimpa Indonesia, yaitu gempa 7,2 skala Richter yang diikuti dengan tsunami setinggi 7 meter di Mentawai dan meletusnya Gunung Merapi di Jawa Tengah. Kedua bencana tersebut sama-sama memakan korban jiwa. Tsunami di Mentawai menelan 112 korban tewas dan ratusan hilang, sedangkan bencana Merapi sampai tanggal 27 siang telah menelan lebih dari 30 orang meninggal. Korban masih akan terus bertambah karena masih banyak yang kritis karena luka bakar di berbagai rumah sakit di sekitar Merapi.

Selain korban jiwa, banyak warga masyarakat yang mengungsi karena kedua bencana ini. Mereka meninggalkan rumahnya karena rusak berat dilanda tsunami dan diterjang awan panas si wedhus gembel. Saat ini mereka memerlukan bantuan.

Salah satu korban yang diduga ikut tewas dalam bencana Merapi adalah Mbah Maridjan. Mbah Maridjan adalah tokoh penting Gunung Merapi. Beliau begitu dikenal karena pernah menolak untuk meinggalkan Gunung Merapi, meski yang meminta adalah Raja Jogja Hamengku Buwono X. Beliau semakin terkenal ketika membintangi iklan minuman suplemen energi dengan slogan Rosa-Rosa.

Mencermati berita Koran dan TV hari ini (Rabu 27 Oktober 2010) saya kecewa. Karena berita tentang korban dan mereka yang berada di pengungsian kalah dengan berita tentang Mbah Maridjan. Hampir semua media (cetak dan elektronik) memberi liputan lebih banyak tentang Mbah Maridjan daripada kepada para korban dan mereka yang di pengungsian.

Kita semua kenal bahwa Mbah Maridjan adalah orang yang rendah hati dan tidak suka dikedepankan. Beliau adalah orang yang memegang teguh falsafah Jawa: sepi ing pamrih rame ing gawe. Jadi saya yakin Mbah Maridjan pasti marah jika media lebih sibuk memberitakan dirinya daripada memberitakan tentang korban dan mereka yang berada di pengungsian.

Oleh sebab itu marilah kita focus kepada mereka yang jadi korban dan bagaimana kita semua bisa membantu penderitaan mereka.

Gunung merapi meletus, memuntahkan lahar panas, awan panas, meluluhlantakkan desa yang berada di bawah kaki gunung merapi. Awan panas telah merenggut 25 nyawa penduduk, termasuk Mbah Maridjan, juru kunci gunung Merapi. Juru Kunci yang dicintai banyak orang, telah menggenapi tugasnya sebagai penunggu Merapi hingga ajal menjemputnya, Mbah Maridjan meninggal dengan posisi bersujud di belakang rumah. Desa Kaliadem dan Kinahrejo luluhlantak dipenuhi dengan debu setebal 20 cm.

MERAPI

Alam telah berkata atas titah TUHANNYA

Saat bibir norma terkunci tak mampu lagi berbicara

Mereka bertutur dengan cara yang mereka punya

Alam yang murka melihat semua khilaf kita

Bumi yang semakin menua menyimpan beragam cerita

Banyak pelajaran darinya agar kita mampu bijaksana

Namun bila hati terlanjur buta tertutupi

Jejak nafsu yang kian merajalela di sana sini

Wahai anak anak adam

Janganlah berjalan membawa sebuah dendam

Ambisi pribadi ingin menguasai negeri

Hingga tepikan harga sebuah hati nurani

Wahai jiwa jiwa yang pongah

Jangan pernah bangga memiliki sifat serakah

Saat kedudukan engkau gunakan untuk menggali dan memonopoli

Menjatuhkan airmata hati hati yang tersakiti

Renungkan…. TUHAN telah mengirimkan sebuah pesan

Agar engkau lebih arif menyentuh sisi kehidupan

Letusan merapi hanyalah sebuah peringatan dini

Agar kita kembali ikhlas menapak di jalan yang suci

Desa Kaliadem dan Kinaredjo tertutup debu, tanamanmu layu

Motor yang digunakan salah satu relawan untuk menyelamatkan penduduk, ban terkena panas debu hingga meletus hingga relawan jatuh dan mengalami luka bakar di kaki

Abu dari merapi yang memenuhi ruang tamu dengan ketebalan 20 cm

Ternak yang mati akibat abu panas bersuhu 500 derajat

Yang tertinggal dan tdk sempat dibawa oleh pemiliknya

Pengungsi yang bersyukur bertemu kembali keluarganya di barak pengungsian

Photos by: Galang Press – Yogyakarta

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar